Test Ride: Ducati Multistrada 1200 Red

03052016-Moto-Multistrada-1200_01

Setelah sempat menjajal Ducati Multistrada 1200 Red di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu, Motovaganza kembali mendapat kesempatan untuk menjajal motor gede ini seharian penuh pada pertengahan pekan lalu. Motor berjenis Sport Touring memang lebih cocok diajak berpetualang ke luar kota ketimbang hanya bermain-main di jalanan perkotaan.

Perjalanan untuk menguji performa dan handling Multistrada 1200 kami mulai usai Shalat Subuh di kantor, di kawasan Patal Senayan, Jakarta Selatan. Saya kebagian tugas untuk menunggangi motor berbobot 234kg tersebut, sementara pemimpin redaksi Motovaganza.com, Raju Febrian, mendapat jatah untuk menguji motor Ducati yang lain, yakni Ducati Scrambler 800 Icon Red. Kedua motor itu memang kami pinjam bersamaan dari PT Garansindo Euro Sports, pemegang merek Ducati di Indonesia.

Jalur pertama adalah mengisi bahan bakar di kawasan Pondok Indah. Dengan kompresi mesin mencapai 12.5:1, Multistrada 1200 disarankan menggunakan bahan bakar bensin dengan Oktan 95 atau setara Pertamax Plus. Pagi itu, kami mengisi hingga penuh tangki motor yang berkapasitas 19,4 liter tersebut.

03052016-Moto-Multistrada-1200_06

Dari Jalan Arteri Pondok Indah, kami melaju ke arah Pasar Minggu melalui jalan TB Simatupang, lalu berbelok ke kawasan Lenteng Agung, Margonda Raya, dan Jalan Raya Bogor. Jalanan yang masih cenderung sepi membuat kami bisa tancap gas. Hanya dalam waktu singkat, kami bisa mendapatkan kecepatan hingga 150 km/jam. Bahkan dalam posisi gigi-2 saja, motor bermesin dua silinder dengan kapasitas 1198cc ini bisa melaju hingga 120 km/jam tanpa perlu usaha yang terlalu keras.

Mesin Testrastretta DVT dengan Desmodromic Valiable Timing, dua silinder dengan konfigurasi L-Twin ini memang yahud. Dengan tenaga 160 hp pada 9.500 rpm dan torsi mencapai 136 Nm pada 7.500 rpm. Tenaga dan torsi ini setara dengan sedan bermesin 2.000 cc, tapi dengan bobot tubuh yang seperenam lebih ringan.

Suara knalpotnya yang khas Ducati menjadi hiburan tersendiri. Raungannya menggema membelah pagi yang sunyi. Sayang, pandangan saya sedikit terganggu oleh cahaya dari lampu di speedo meter yang memantul ke visor motor. Mungkin, jika speedo meter-nya diberi sedikit tudung, masalah itu bisa dihindari.

03052016-Moto-Multistrada-1200_02

Kota Bogor kami capai dalam waktu singkat. Masalah datang begitu kami mulai memasuki kawasan Darmaga, Bogor, sekitar jam 6.30 pagi. Jalanan mulai macet. Kami harus menghadapi angkot, bus, dan sepeda motor mereka yang akan berangkat kerja atau sekolah. Situasi macet ini kami alami hingga ke Leuwiliang.

Beruntung, riding position yang rendah berkat penggunakan ban berukuran 17 inci di kedua rodanya membuat kaki saya bisa menapak secara penuh. Posisi berkendara ini membuat saya tidak terlalu capek meski harus antri lama di belakang angkot dan bus yang berhenti seenaknya di ruas jalan yang sempit tapi sangat padat.

Kopling hidrolik-nya yang enteng juga sangat membantu agar tangan kiri tidak pegal saat menghadapi kemacetan. Nah, yang paling susah adalah menahan hasrat untuk tidak menggeber gas guna mengusir angkot atau motor yang berjalan pelan di tengah jalan. Maklum, kebanyakan angkot dan sepeda motor itu baru minggir setelah mendengar letupan knalpot yang menggelegar. Efek sampingnya, karena gas digeber terus-menerus, konsumsi BBM pun menjadi sedikit boros. Hehehe…

03052016-Moto-Multistrada-1200_04

Melewati Leuwiliang, jalanan menuju kawasan Jasinga relatif sepi. Kontur jalannya tergolong mulus, dengan variasi tanjakan-turunan dan tikungan-tikungan yang menantang. Saya sempat berhenti sebentar untuk mengubah riding mode dari posisi Urban ke Touring. Ada 4 riding mode yang tersedia di Multistrada 1200, dua lainnya adalah Sport dan Enduro.

Pada mode Urban, tenaga mesin secara otomatis dibatasi hanya 100 hp, sedangkan pada mode Touring, tenaga melonjak hingga ke titik maksimal 160 hp. Namun, sepertinya riding mode Touring tak terlalu pas untuk melahap jalanan a la Indonesia yang padat dan penuh tikungan. Selama beberapa kilometer antara Leuwiliang dan Jasinga, saya hanya bisa melaju pada gigi 2 dan maksimum 3, karena harus selalu menginjak rem atau mengoper gigi saat hendak menikung.

Pada mode Touring, mesin terasa over power hingga susah mendapatkan engine brake yang maksimal dan harus selalu dibantu pengereman saat hendak menikung tajam. Mesin pun seolah melonjak-lonjak liar saat dipacu pada gigi rendah, sedangkan suspensi ikut mengeras. Pengendara yang tidak sabaran pasti akan terprovokasi untuk membuka gas lebih lebar dan menambah gigi. Padahal, jalanan di kawasan pedalaman Bogor nyaris tak memiliki trek lurus untuk merasakan akselerasi dan top speed.

03052016-Moto-Multistrada-1200_03

Alhasil, saya kembali berhenti untuk mengembalikan riding mode ke posisi Urban. Pada posisi ini, tenaga mesin dibatasi hanya 100 hp. Tapi, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat motor seberat 232 kg ini melesat bak peluru. Engine brake dan sistem ABS-nya bekerja presisi, sesuai kebutuhan. Saya sempat berkhayal, seandainya motor besar diizinkan melaju di jalan tol, pasti akan sangat asyik untuk menggeber Multistrada 1200 dengan menggunakan riding mode Touring atau bahkan Sport.

Menjelang siang, saya terpancing untuk mengubah riding mode ke posisi Enduro. Sayangnya, tak ada trek yang pas untuk mencoba performa Multistrada di atas gravel. Kalaupun ada, saya agak ngeri juga untuk mengajak motor ini melakukan aksi off-road, walaupun hanya off-road ringan. Maklum, Multistrada 1200 yang kami coba masih menggunakan ban belakang superlebar bermotif jalan raya berukuran 190/55-17 inci serta 120/70-17 inci di bagian depan.  Padahal, biasanya rata-rata ban enduro berukuran 150/70-17 inci (belakang) dan 90/90-21 inci depan, dengan motif dual purpose.

Sepertinya, untuk kondisi jalan raya di Indonesia yang kerap tidak mulus, macet dan jarang treek lurus, maka riding mode paling pas saat memacu Multistrada 1200 adalah pada posisi Urban. Terbukti, ketika kembali ke Jakarta menjelang tengah hari, postur motor yang relatih rendah dan pendek ini justru sangat mudah diajak meliuk-liuk di tengah kemacetan Bogor yang terkenal dengan kota sejuta angkot itu. Riding position yang relatif tegak, ditambah karakter mesin yang sedikit santai pada riding mode Urban, membuat saya lupa bahwa matahari siang itu benar-benar terik dan menguras tenaga. Mungkin karena perut keroncongan sebelum makan siang, saya sempat berkhayal lagi, ah… seandainya saya punya uang Rp 669 juta untuk meminang motor ini…

Berita Terkait:
First Ride: Ducati Multistrada 1200

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: